Iklan Atas

Piagam Madinah Konstitusi Islam yang Inklusif, Pruralis dan Demokratis

Kondisi masyarakat Makkah pra-Islam / masyarakat jahiliyyah dalam beberapa aspek sangat kacau, meskipun dalam beberapa ha.l kehidupan yang lain mengalami kemajuan seperti Kota kesusasteraan, pusat perdagangan yang potensial (para pedagang dari Yaman singgah di Kota Makkah sebelum mereka melanjutkan perjalanannya ke Syam (Syiria).

Dalam akspek sosial, masyarakat Jahiliyah mempertahankan sistem kekerabatan (qobilahietnic) dimana kehormatan seseorang ditentukan berdasarkan keturunan. Jadi ketinggian martabat atau derajat seseorang bukan didasarkan path pencapaian prestasi melainkan ditentukan oleh garis keturunan atau marga (gobilah). Implikasi dari sistem ini, maka muncullah kelas-kelas dalam masyarakat, ada kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah.
Isi Piagam Madinah
Akibat dari praktik kehidupan semacam ini menyebabkan coring terjadinya konflik atau perselisihan bahkan peperangan diantara mereka seperti perang Fijar anatara suku Jurhum dengan suku Qorthura, anatara suku Quraisy dengan suku Khuza'ah. Maka dapat ditegaskan bahwa segala bentuk kezaliman clan kemungkaran merupakan sesuatu yang biasa terjadi dalam kehidupan masyarakat Jahiliyah. (Al-Syirah Al- Nabawiyah h. 145-149).

Salah satu penyebab dari konflik-konflik ini adalah terkait masalah distribusi jabatan-jabatan yang telah ditentukan kepada para pemimpin Qobilah dianggap kurang adil karena berdasarkan tingkat tinggi rendahnya suku atau gobilah. Jabatan itu diantaranya

  1. Hijabah, jabatan yang diberi wewenang untuk menjaga kunci. Ka'bah 
  2. Siqayah, Jabatan untuk mengawasi mata air Zarnzam 
  3. Diyat, jabatan kehakiman yang memiliki wewenang menangani tindak kriminal 
  4. Safarah, Jabatan kuasa usaha atau duta 
  5. Liwa, jabatan pemimpin perang yang selalu membawa bendera pada scat pertempuran 
  6. Rifadah, jabatan yang berwenang untuk mengelola pajak. dll. 

Kebudayaan masyarakat jahiliyah sebagian besamya juga terjadi kekacauan seperti praktik perzinahan, praktik riba, minum-minuman keras dll. Martabat perempuan sangan rendah dibandingkan kaum yang menjadi tumpuan harapan orang tua untuk menjadi pahlawan dalam peperangan (Sejarah dan kebudayaan Islam h.67).

Dalam aspek sosial kegamaan, masyarakat jahiliyah telah menyimpang jauh dari ajaran agama Tauhid yang di bawa oleh Nabi Ibrahim a.s. yang mengajarkan menyembah hanya kepada Allah SWT berubah menjadi agama yang dipenuhi dengan kemusyrikan. (Sejarah kebudayaan Islam h. 69).

Selama 13 tahun Nabi Muhammad SAW di Makkah tidak menerima perintah (melalui wahyu) tentang berbagai hal, balk yang berkaitan dengan kehidupan sosial keagamaan ataupun sosial kemasyarakatan secara menyeluruh, melainkan ban" sebatas hal-hal yang terkait dengan keimanan atau akidah. Terdapat lima faktor yang menyebabkan kenapa orang-orang kafir Quraisy tidak menerima atau menentang perjuangan Nabi Muhammad SAW, yaitu

  1. Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan. Mereka menduga bahwa loyalitas kepada seruan dan ajakan Nabi Muhammad SAW berarti loyalitas kepada kepemimpinan keturunan Abdul Muthalib. dan hal ins yang tidak disukai oleh para pemimpin Quraisy yang lain. 
  2. Nabi Muhammad SAW mendeklarasikan persamaan hak antara kaum bangsawan dan hamba sahaya atau budak 
  3. Para pemimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran atau doktrin tentang kebangkitan kembali (yaumul ha'ast) dan pembalasan akhirat. 
  4. Taklid kepada ajaran nenek moyang terutama dalam hal kepercayaan dan ritual pemujaan /sudah menjadi tradisi yang mengakar pads bangsa Arab. 
  5. Kemunculan salah paham dari kalangan para pemahat dan penjual patung yang melihat bahwa Islam sebagai penghalang rezeki mereka (sejarah kebudayaan Islam, h. 87). 

Dari aspek lain secara politis sebenarnya orang-orang kafir Quraisy merasa khawatir tentang kemunculan sebuah gerakan yang dipimpin oleh nabi Muhammad SAW. Gerakan ini dimungkinkan akan menggeser dominasi kepemimpinan orang-orang kafir Quraisy yang sudah sekian lama terlembaga dalam kehidupan masyarakat Arab jahiliyah Makkah. Oleh karean itu para pemimpin Quraisy melakukan berbagai upaya termasuk melakukan negoisasi kepada nabi Muhammad SAW dengan memberikan 3 tawaran, yaitu Kedudukan jabatan pimpinan, harta dan wanita, yang penting Nabi Muhammad SAW menghentikan aktivitas pergerakannya. (Sirojuddin fly, Pemikiran politik islam: sejarah, praktik dan gagasan)

Sangat tragis, semua tawaran itu di tolak oleh Nabi, bahkan Nabi bersumpah : Demi Allah, jika mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, akau tidak akan berhenti untuk melakukannya sehingga agama ini (Islam) memperoleh kemenangan dan di anut oleh masyarakat. Hal ini menyebabkan kondisi komunitas Muslim semakin terpuruk, menderita, ancaman dan intimidasi dari orang-orang kafir Quraisy (Al-Bidayah wa al-Nihayah, h. 57)

Kondisi ini secara politis tidak menguntungkan perjuangan dan dakwah Nabi, maka dalam rangka melindungi dan menyelamatkan umat Islam Nabi Muhammad SAW melakukan beberapa langkah strategis, diantaranya

  1. Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada beberapa orang untuk berhijrah ke Habsyah (Sekarang Ethofia), yang sebelumya Nabi sudah menginformasikan bahwa di sana ada seorang penguasa yang baik sekalipun dia beragama kristen yaitu raja Najashi yang dapat dimintai pertolongan untuk memeberikan suaka politik 
  2. Mengadakan kerjasama dengan suku-suku diluar kota Makkah 
  3. Mengadakan bai'at (janji setia kepada Nabi) dari orang-orang gobilah Aus dan Khazroj 
  4. Melindungi orang-orang tertindas 
  5. Mengupayakan wujudnya kesejahteraan 
Mungkin itu saja Artikel dari Piagam Madinah Konstitusi Islam yang Inklusif, Pruralis dan Demokratis  semoga artikel ini bisa menambah pemahaman dan wawasan teman semuanya, jika kalian suka dengan artikel ini silahan share ke teman-teman anda semua, terimakasih

Follow Blogger Kami. Masukan Email Untuk Berlangganan:

0 Response to "Piagam Madinah Konstitusi Islam yang Inklusif, Pruralis dan Demokratis "

Posting Komentar